You Can Be A Saint!

Setiap 1 November, kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Kita mengingat kembali jasa dan pengorbanan luar biasa para kudus dan mengucap syukur atas doa dan bimbingan mereka bagi kita. Orang Katolik begitu dekat dengan ‘nama’ para kudus, kita memakai nama-nama mereka sebagai nama Baptis kita, nama Krisma, nama-nama kelompok kategorial, nama sekolah, nama Paroki dan bahkan nama kita sendiri. Pernahkah terbayang bila suatu hari anda meninggal dan anda diangkat menjadi orang kudus? Dan nama anda dipakai oleh orang-orang lain untuk memberi nama anaknya atau lain-lain? Wow, mengapa tidak? Namun, sepertinya kita memiliki banyak alasan untuk tidak membayangkan hal itu. Marilah kita bahas beberapa pandangan yang salah dan memperbaikinya.

“Saya ‘kan orang berdosa”

Tahukah anda bahwa para kudus itu juga orang berdosa? Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah dan jatuh dalam dosa. Para kudus juga sama seperti kita yang dapat jatuh dalam dosa. Mereka juga mengalami godaan-godaan yang sama seperti kita. Bahkan mungkin mereka mendapat godaan yang lebih besar karena setan tentu tidak senang dengan mereka.

Saint is sinner. Orang kudus adalah pendosa. Tetapi yang membedakan orang kudus dengan pendosa-pendosa lain adalah ‘ke arah mana mereka mencari’. Keduanya dapat jatuh dalam dosa, tetapi ketika orang-orang kudus jatuh dalam dosa, mereka tahu kemana mereka harus pergi, yaitu memohon pengampunan dari Tuhan dan bangkit. Mereka percaya bahwa Allah Bapa mereka sangat menyayangi mereka dan pasti mengampuni setiap dosa manusia.

Orang-orang berdosa ketika jatuh dalam dosa, mungkin tidak sadar bahwa mereka tidak berdosa. Bila mereka tidak sadar bagaimana mereka dapat meminta pengampunan dari Tuhan? Orang-orang berdosa adalah orang-orang yang meragukan Tuhan, meragukan kebaikan dan kemurahan hati Allah. Mereka takut Allah tidak mengampuni dosa mereka, mereka malu akan dosa-dosa mereka, tetapi tetap saja mereka simpan dan lakukan terus. Padahal Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka, Ia tidak memandang hina diri mereka, bahkan Tuhan mengasihi mereka.

“Orang kudus itu harus jadi Romo atau Suster”

Siapa bilang orang kudus itu harus berasal dari para biarawan dan biarawati? Banyak orang-orang kudus yang memiliki keluarga, seperti St. Monica, St. Petrus, St. Gemma Galgani, St. Perpetua, St. Felicitas, St. Elizabeth Ann Seton, St. Thomas More, St. Bridget, St. Elizabeth Hungaria  dan masih banyak lagi!

Memang, pada masa-masa sekarang, Paus jarang sekali meng-kanonisasi orang-orang kudus yang tidak selibat. Alasannya bukan tidak ada. Tetapi para biarawan dan biarawati memiliki akses yang lebih mudah untuk diketahui kehidupan rohaninya. Mereka memiliki ordo-ordo dan komunitas rohani yang dapat menyelidiki kehidupan rohani dan membantu dalam proses kanonisasi. Mungkin banyak para ibu rumah tangga, ayah dan para non-selibat lain yang juga menjalani hidup yang kudus, tetapi mereka kurang diketahui oleh orang banyak atau gereja setempat. Maka, mungkin masih sangat banyak orang kudus yang tidak terkanonisasi.

Setiap orang dipanggil menjadi orang kudus

Membaca kebenaran diatas, kita dapat simpulkan bahwa kekudusan itu adalah sesuatu yang mungkin bagi setiap umat beriman. Bahkan setiap orang dipanggil menjadi orang kudus, dan Tuhan sendiri yang memanggil. Dengan sangat jelas, Alkitab berkata, “Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1: 16)

Bukankah kita manusia diciptakan serupa dengan gambar Allah? Bila Allah itu kudus, maka sudah seharusnya manusia juga kudus. Namun, manusia jatuh dalam dosa, sehingga kekudusannya itu hilang. Maka kita dipanggil untuk kembali ke awal. Mengapa kembali ke awal? Karena sejak awal sebelum jatuh dalam dosa, kondisi awal manusia itu kudus. Kekudusan itu dapat dicapai kembali. Mencapai kekudusan pertama-tama bukanlah usaha kita, tetapi pemberian Allah yang kita terima untuk terjadi dalam hidup kita. Kekudusan adalah hadiah dari Allah.

Maka kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “apakah saya mau menerima hadiah kekudusan itu?” Bukan lagi bertanya, “apakah saya bisa menjadi kudus?” Yang membuat manusia menjadi orang kudus bukanlah perkara bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau. Sebab semua manusia tidak dapat mencapai kekudusan itu dari diri dia sendiri. Itu sungguh mustahil bila dilakukan dari dirinya sendiri. Tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil!

Lalu, bagaimana caranya menjadi seorang kudus? Jawabannya hanya : inginkanlah itu! Just want it! Just desire for it! Dan jangan lupa baca petunjuk lengkap menjadi kudus di buku “Become a Saint for Dummies” atau yang kita kenal dengan Alkitab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s