Homosexuality

Apakah anda mempunyai handphone? Saya rasa hampir semua orang punya. Seperti saya, saya hanya memiliki sebuah handphone Nokia 5800. Bentuknya agak besar. Dengan bentuk handphone yang sebesar itu, saya dapat melakukan banyak hal dengan handphone saya. Saya bisa menggunakan handphone saya untuk menimpuk anjing, saya bisa gunakan handphone saya sebagai pemberat penahan kertas, saya bisa gunakan untuk mengganjal pintu, meja atau kursi dan masih banyak lagi. Wait! Apakah itu tujuan utama diciptakannya handphone?

Natural law
Hidung kita pakai untuk mencium dan telinga untuk mendengar. Kalau ditanya mengapa demikian, jawabannya hanya satu : “dari sananya memang begitu!” Kata “dari sananya memang begitu” sebenarnya mengungkapkan bahwa ada suatu kebenaran yang tidak dapat diubah. Dan hal ini disebut dengan law of nature atau ’aturan alam’.

Dan, terdapat suatu aturan lain, yaitu ‘natural law’ atau ‘aturan yang alamiah’. Aturan ini mengatur kelakuan-kelakuan manusia dan sudah ‘tertulis’ dalam dasar diri setiap orang. Dan dalam natural law ini kita dapat menemukan siapa diri kita sebenarnya, siapa diri kita yang Tuhan ciptakan ini. Dan hanya dengan mengikuti natural law ini, kita dapat menemukan kebahagiaan yang sungguh-sungguh dapat memuaskan kita, karena kita memang diciptakan untuk itu.

Sama seperti handphone, handphone diciptakan untuk berkomunikasi dan hanya dalam berkomunikasi itu saja, tujuan utamanya terpenuhi. Dan hanya dalam mengikuti natural law kita sebagai manusia beratio, kita menemukan kebahagiaan yang sungguh kita pantas rasakan.

Subjective vs objective
Andaikan suatu hari ada seorang teman anda yang memakan sampah. Kita dapat dengan mudah berkata bahwa sampah itu bukan untuk dimakan. Mungkin ia merasa tidak senang dengan kata-kata kita, lalu ia berkata : ‘suka-suka gue donk!’ dan mungkin ia akan merasa bahagia setelah mengikuti kehendaknya sendiri.

Kita sebagai manusia diberi kehendak bebas dari Tuhan. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk mengikuti kehendak-Nya. Jika melihat contoh tadi, teman itu menggunakan kehendak bebasnya untuk memakan sampah, tetapi, apakah manusia pada umumnya memakan sampah?

Mengikuti kehendak bebas kita, bukan berarti kita melakukan apa yang terbaik bagi kita.Kita hanya melakukan apa yang kita pikir itu baik (pandangan subjective), tetapi sebenarnya tidak! Kita harus kembali kepada natural law, kembali kepada objektivitas. Kembali kepada dasar dan tujuan awal tubuh kita diciptakan. Kembali kepada tujuan awal handphone diciptakan. Dan kembali kepada tujuan awal seksualitas kita.

The Biological Theorem
Mari kita ingat-ingat lagi apa yang dulu mungkin pernah kita pelajari tentang seksualitas manusia di sekolah!

Dalam hubungan seksual (atau konjugasi) manusia, laki-laki memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin wanita. Yang terjadi adalah : pria menyemprotkan sperma ke dalam rahim wanita. secara biologis, inilah natural law, tujuan awal diciptakannya seks, untuk berkembang biak.

Jika anda mempelajari biologi sma, maka anda akan mengetahui bahwa, sistem imun seorang wanita dapat menyerang zat-zat asing yang masuk ke sistem reproduksinya, agar sistem reproduksi tetap sehat dan terjaga. Tetapi, bila terdapat zat-zat yang merupakan sel-sel sperma laki-laki, sistem imun tidak menyerang. Sistem imun wanita akan relax dan menerima sperma masuk. Akhirnya, dapat terjadi pembuahan. Dan mengapa demikian? Jawabannya kembali kepada law of nature diatas.

Reason why the Church disagree with gay-lesbian-homosexuality.
Organ seksual pria diciptakan hanya dapat memberi. Dan organ seksual wanita diciptakan hanya dapat menerima. Organ seksual kita tidak dapat bekerja sesuai fungsinya bila dipasangkan dengan sesama jenis. We cannot change the fact that our bodies are created for opposite sex.

Bila sepasang wanita atau pria melakukan hubungan seksual sesama jenis, maka mereka tidak mengerjakan the ’natural law’ of their sexuality. Mereka melakukan sesuatu yang menyimpang dari tujuan. Sama seperti dengan contoh diatas, seperti menggunakan handphone untuk mengganjal kursi.

Selain dapat merusak organ seksual secara fisik, melakukan hubungan sesama jenis sama saja dengan meng-abuse tubuh kita. Karena hal ini berlawanan dengan tujuannya, yaitu hubungan saling memberi dan menerima. Tubuh kita, bahkan hingga tingkat mikroskopik sel, disesuaikan dengan tubuh lawan jenis kita.

Kembali kepada apa yang diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II bahwa syarat-syarat true love adalah FREE, TOTAL, FAITHFUL, FRUITFUL. Jelas bahwa hubungan sesama jenis tidak memberikan cinta secara TOTAL, dan tentu tidak akan pernah FRUITFUL, berbuah.

I don’t judge, we can’t judge, the GOD doesn’t judge, nobody is judged.
Sayangnya tidak semua orang memiliki dorongan seksual seperti diatas. Teori-teori diatas mungkin tidak akan pernah bisa memahami bagaimana orang-orang yang berjuang dalam ketertarikan sesama jenis, the people who struggle. Para struggler umumnya merasa bahwa mereka terperangkap dalam tubuh yang salah.

Sayangnya dunia ini mengajarkan solusi-solusi yang tidak tepat bagi para struggler. Pertama, diam dan bersembunyi. Atau, tunjukkanlah siapa dirimu, kalau memang demikian dirimu! Dan berakhir pada pandangan objective yang salah dan sexual repression.

Salah satu solusi tepat bagi para struggler adalah hidup dengan menjaga kemurnian seksual, atau mempraktekan chastity dan abstinence, yaitu dengan mengalihkan seluruh dorongan seksual kepada cinta akan Tuhan.

What about u?
Jika anda seorang same-sex attraction struggler, ingat, anda tidak sendirian. Tuhan tahu segalanya dan Ia mengerti kesulitanmu. Salah satu cara yang mungkin bisa anda lakukan adalah membuka hati anda untuk Tuhan masuk dan bekerja. Selain itu, anda juga dapat mengikuti suatu komunitas kristiani yang mampu membantu dan mengerti kesulitan anda, sehingga dapat bersama-sama mengangkat salib yang anda rasakan. Atau dengan mengikuti retret-retret penyembuhan luka batin. Dan seperti yang dikatakan diatas, make chastity as your life-style.

Jika anda bukan seorang struggler, merupakan kewajiban anda untuk tetap menghargai dan mencintai para struggler. Bukan hanya karena kesulitan hidup mereka berbeda dari anda, anda dapat merendahkan mereka. Tidak. Tuhan memanggil kita untuk mengasihi sesama kita seperti kita mencintai diri kita sendiri. Bukan hanya para struggler, anda juga berkewajiban mempraktekan gaya hidup chastity.

m0n
Salam chastity!

Source : Theology of the Body for teens, by Jason Evert, chapter 7, page 104-106, digging deeper: homosexuality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s