Created for Love

L.O.V.E.

Love. Cinta. Siapa tidak mengenal kata cinta? Siapa tidak pernah merasakan yang namanya cinta? Anak-anak kecil pun sudah bisa berpendapat jika ditanyain apa itu cinta. Cinta menjadi topik yang paling laris manis. Di Indonesia saja terdapat ratusan bahkan ribuan penyanyi yang menyanyikan lagu cinta, ratusan film sinetron yang bertemakan cinta, entah itu cinta terlarang, cinta monyet, cinta sejati, atau apapun. Padahal topiknya hanya satu, yaitu cinta.

Mengapa cinta menjadi topik yang paling hangat dan tak akan pernah kehilangan nilai jualnya? Jawabannya terdapat pada diri anda sendiri! Karena pada dasarnya, setiap manusia,termasuk anda, diciptakan oleh Tuhan berlandaskan cinta. Dan setiap manusia dipanggil untuk mencintai.

Dikatakan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Tuhan. Dan Alkitab juga berkata bahwa: GOD is LOVE. Allah adalah kasih. Maka sudah seharusnya cinta itu ada didalam diri manusia.

Loves Equals Communion

Kita, manusia, diciptakan seturut citra Allah yang adalah kasih, maka sudah menjadi kodrat dan sudah selayaknya dan bahkan seharusnya manusia hidup dalam cinta kasih. “Man cannot live without love.”  JP2

Sekarang, ketika cinta atau kasih itu kita rasakan, cinta itu pasti tidak berhenti pada diri kita sendiri. Cinta tidak pernah terisolasi. Ketika ada cinta, maka pasti ada yang mencintai dan ada yang dicintai, dan cinta diantara mereka. Pasti ada persekutuan/hubungan antar manusia, hubungan yang dieratkan oleh cinta, dan mereka saling memberikan dirinya dalam cinta. Maka, kasih atau cinta itu sama dengan bersekutu, koinonia.  Seperti sifat Allah Tritunggal, ada Bapa, ada Putra dan juga ada Roh Kudus sebagai api cinta pengikat diantaraNya.

Itulah sebabnya, Allah berkata, “tidak baik bila manusia itu sendirian saja.” Sebab, manusia membutuhkan pendamping hidupnya untuk saling berbagi dan saling memberi. Gereja mengajarkan, “Manusia dapat dengan penuh memahami citra dirinya sendiri hanya dalam pemberian tulus dari dalam diri sendiri.”

Mother Teresa berkata, “Life is not worth living unless it is lived for others.”

Nothing hurts like love – Daniel Bedingfield

Jika setiap manusia dipanggil untuk mencintai, maka seharusnya cinta itu menghasilkan sesuatu yang baik bukan? Tetapi kadang sebaliknya. Tidak sedikit jalinan cinta kasih suami istri yang terputus alias bercerai dan meninggalkan luka, kekesalan, dendam dalam lubuk hati masing-masing. Banyak anak muda yang baru belajar mengenal cinta dari lawan jenis nya mengalami broken heart atau patah hati dan mengakibatkan hilangnya makna hidup dan tak sedikit yang hidupnya jadi hancur berantakan.

Mengapa?

Semua ini berasal dari satu pilihan yang berakibat fatal. Yaitu pilihan yang didasari ketidakpercayaan pada Allah. Yaitu pilihan yang dipilih oleh Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang. Mulai dari situ, semua manusia memiliki dosa asal. Setiap bayi yang baru lahir, sudah memiliki hutang dosa. Dosa memutuskan hubungan manusia dengan Tuhan.

Hubungan manusia yang sudah terputus itu, sudah didamaikan kembali oleh yang namanya cinta. Yaitu cinta yang Yesus tunjukkan diatas kayu salib 2000 tahun yang lalu untuk membayar lunas setiap manusia dari hutang dosa. Yesus sendiri berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15:13.

Kasih dari Allah adalah kasih terbesar yang pernah ada. Kasih yang tiada duanya. Allah menawarkan kasih yang begitu tulus dan tidak bisa diperoleh dari manusia manapun juga.

Created for love

Seperti Yesus, kita dipanggil untuk mencintai. Dan mencintai itu tidak pernah mudah. Jika kita mencintai, maka kita memberi. Jika kita memberi, maka ada sesuatu yang diambil dari kita, bisa banyak bisa sedikit. Dan dalam proses mencinta atau proses ‘pengambilan’ itu bisa dilakukan dengan lembut atau dengan kasar, sehingga tak jarang menimbulkan luka. Luka yang tidak mudah hilang dan bahkan berbekas. Itulah konsekuensi dari cinta.

Dan konsekuensi itu tidak dihadapkan pada pertanyaan ‘apakah saya bisa?’, tetapi seharusnya pada pertanyaan, “apakah saya mau?” Dan ketika kita putuskan untuk mencinta, maka kita masuk dalam suatu proses yang tidak ada habisnya. Yaitu proses menjadi diri kita. Mengapa?  Sebab, semakin kita mencintai, semakin kita menjadi diri kita. Because, we are created for love.

Definisi cinta?

bersambung ke chapter selanjutnya: ‘Love defined’

Source: Jason Evert, Theology of the Body for teens chapter 1. And the talks tonight in ‘love 101’ with my community PDKM St. Alfonsus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s