Kasih di Atas Segalanya

- Cerita ini FIKTIF belaka -

Aku sedang dalam suatu Perayaan Ekaristi bersama-sama dengan teman-temanku. Hari itu Kamis Putih, Pastur membawa Sakramen Mahakudus mengitari gereja. Tetapi ada satu hal yang mengalihkan perhatianku dari doaku dalam Ekaristi itu. Ada satu ibu yang duduk di depanku. Tangannya terkatup di dada dan tangannya bergetar.

Kami tak mengenal ibu itu. Kami pikir, mungkin ia orang suci atau ia memiliki kemampuan khusus entah kemampuan apa yang membuatnya bergetar. Mulai dari tangan, lalu mulutnya, tak lama kemudian badannya ikut bergetar. Kami heran melihat dia. Akhirnya, kami hanya memperhatikan dia saja selama perarakan Sakramen Mahakudus itu.

Setelah beberapa tahun, aku semakin mendalami imanku bersama keluargaku. Kini Papa dan Mamaku juga ke gereja. Mereka baru saja di baptis Natal lalu. Mamaku yang tadinya begitu tekun dan mempertahankan kepercayaan lamanya, tiba-tiba saja berubah. Ia berubah seperti menjadi seorang suci.

Kami sekeluarga ke gereja bersama. Tetapi aku menjadi tidak nyaman ke gereja bersama keluargaku, terutama mamaku. Ia mengingatkanku kepada ibu yang aku lihat bersama teman-temanku pada Kamis Putih beberapa tahun lalu. Mama mulai berdoa lama-lama. Mulutnya komat-kamit. Setelah Misa selesai, ia berjalan ke depan. Ia berlutut di depan altar dengan kedua lututnya. Ia mengatupkan tangannya di dada dan mulai komat-kamit lagi.

Di rumah dan di toko ia pun begitu. Sebelum membuka toko, ia berdiri depan toko dan mengatupkan tangannya dan komat-kamit. Awalnya, kupikir ini adalah suatu awal yang baik bagi kehidupan rohani mamaku, walaupun caranya aneh. Tetapi, semakin lama aku semakin tidak nyaman. Memang tidak ada aturan tertulis yang ia langgar, tetapi aku semakin tidak nyaman dengan gaya-gaya beribadah mama yang mencolok perhatian orang.

Selain mencolok perhatian orang yang tidak wajar, ada satu hal yang kurang aku sukai. Okay, mama tampak rajin berdoa dan membuka alkitab. Tetapi kalau ia sudah bertemu dengan teman-temannya, rasanya ini membuatku geli. Nada bicaranya yang sombong, cara pandangnya dan dugaan-dugaan negatif terhadap orang yang merendahkan, pendapat-pendapatnya yang menyakitkan orang, membuatku kecewa. Ia tidak ada bedanya dengan ibu-ibu diluar gereja sana yang menurutnya kafir.

Kebiasaan lamanya mengoceh-oceh atas hal-hal sepele pun tidak berubah. Kesalahan kecil pembantu rumah tangga ku dapat berakibat keributan seisi rumah. Kakakku mulai jarang berada di rumah. Aku mengerti mengapa kakak jarang berada di rumah, ia cape mendengar ocehan mama. Sebenarnya aku juga, tetapi aku berusaha tetap bertahan.

Soal gereja, ia juga mulai memamer-mamerkan pengetahuan gereja nya. Menurutnya, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Alasannya, sangat tidak mendalam, “di injil ditulis tidak boleh!” Aku bingung bagaimana ia bisa memahami Alkitab, padahal ia tidak pernah mengikuti komunitas-komunitas apapun di gereja. Ia tidak mengikuti kegiatan lingkungan, kegiatan kategorial yang mungkin dapat membantunya memahami Alkitab. Ia mulai mengintrepretasikan Alkitab menurut pendapatnya.

Aku menyadari, beriman itu tidak hanya soal rajin berdoa dan berbicara atas nama Injil. Aku benar-benar bisa merasakan ketimpangan antara iman mama dan tindakan-tindakannya yang berbeda 180 derajat. Aku mulai meragukan kalau mama itu memiliki iman yang benar. Jangan-jangan itu hanya buat-buatannya saja, pikirku.

Tetapi ada juga orang-orang di gereja ku yang rajin berdoa yang membuatku nyaman bersama-sama dengan mereka. Ketika mengikuti kegiatan kategorial, aku bertemu dengan tante-tante dan om-om yang sekilas aku bisa katakan mereka orang beriman. Mereka mungkin memiliki pengetahuan Alkitab yang banyak, tetapi mereka tidak pernah memamer-mamerkan seperti mamaku.

Aku menyimpulkan, tidak ada kerendahhatian pada diri mama. Serta tidak ada penguasaan diri yang baik. Tidak ada penghargaan pada diri orang lain, yang ada selalu merendahkan orang lain. Semua ini membawaku pada kurangnya suatu hal yang menjadi esensi hidup beriman, yaitu kasih.

Ya, ya, benar kata St. Paulus, kalau tidak ada kasih, semuanya menjadi sia-sia! Semuanya hampa belaka. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Mama yang setiap hari membuka Alkitab, tidak pernah kah ia membaca perikop terkenal ini? Aku kembali menyimpulkan bahwa ia hanyalah pembaca Firman Tuhan, bukan pelaku Firman Tuhan.

Ingin aku mengajak mama mengenal iman Katolik yang benar. Tetapi entah bagaimana caranya. Bila aku memberitahukan kesimpulan-kesimpulanku, mungkin ia akan sangat tersinggung. Yang ada ia malah meng-khotbahi ku balik. Oh, Tuhan bagaimana caranya ya?

Tak lama setelah aku bertanya dan memohon bantuan kepada Tuhan, ia memberitahuku suatu cara. Suatu cara yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya, yaitu melakukan apa yang kurang pada mama. Ya, melakukan perbuatan kasih. Tuhan mengajakku untuk membagikan terang ke sekitarku tidak dengan mengubah mereka menjadi lilin terang, tetapi mengubah aku terlebih dulu. Bila aku sudah menjadi lilin, terang, pastilah sekitarku yang gelap menjadi terang dan nampaklah kegelapan mereka.

Aku menutup perikop kasih yang tadinya ingin aku bacakan keras-keras depan mama. Aku keluar dari kamar dan aku memulai suatu cara hidup baru yang semoga saja, membawa terang dalam keluargaku, yaitu perbuatan kasih yang melebihi segalanya.

- Cerita ini FIKTIF belaka -

2 thoughts on “Kasih di Atas Segalanya

  1. dikira ceritamu loh mon :3 .ehh FIKTIF belaka~~~ hohoho .
    aku perna loh punya experience mirip2 begitu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s