To Be Like Mary

Mary, mother of Jesus

Sosok seorang Maria banyak dikagumi dan disukai oleh orang-orang Katolik. Orang Katolik tidak menyembah Maria, tetapi menghormatinya sebagai Ibu Penyelamat kita. Maria menjadi tempat orang-orang Katolik datang dan membawa keluh kesah dan permohonan untuk disampaikan kepada Yesus. Tetapi, pernahkah terpikir bagi kita untuk ‘menjadi seperti Maria’?

Sama seperti Maria, kita adalah manusia ciptaan Tuhan yang sama-sama hidup di dunia dan merasakan sulitnya hidup di dunia. Maria seorang wanita, seorang ibu, Ia juga memiliki tugas yang sama seperti ibu-ibu lain. Namun, Maria dikhususkan Allah untuk suatu pekerjaan besar, yaitu menjadi Ibu Yesus, Sang Juru Selamat. Oleh sebab itu, Allah mengkhususkan Maria dalam beberapa hal.

Maria, Ibu Penebus yang Tanpa Dosa

Bayangkan bila seorang ayah memiliki anak usia 3 tahun. Anak  itu sedang belajar berenang. Tentu ayah itu tahu bahwa anaknya dapat dengan mudah tenggelam. Lalu, apakah sang ayah melepaskannya begitu saja? Tentu tidak bukan? Walau pelampung sudah ia pakai, ayah itu pasti tetap menjaga disekitarnya. Begitu pula Allah menjaga Maria sejak awal ia dikandung oleh St. Anna.

Maria dikandung tanpa noda dosa. Maria yang akan melahirkan Yesus, Juru Selamat tanpa dosa. Tentu ibu penebus itu tidak mungkin seorang pendosa. Tuhan tahu bahwa Maria itu manusia biasa seperti kita yang dapat jatuh dalam dosa dengan mudah, tetapi Tuhan telah berjaga-jaga disekitar Maria dan mencegahnya tenggelam ke dalam dosa. Agar rencana penyelamatannya berjalan sesuai rencana.

Maria Tetap Perawan

Alkitab berkata, “…Ia (Yusuf) mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki…” (Matius 1:24-25). Bagaimana mungkin orang Katolik menganggap Maria tetap perawan selama hidupnya? Bukankah Alkitab hanya berkata ‘sampai ia melahirkan anaknya’?

Mendalami peranan Maria sebagai Immaculata, artinya memahami bahwa Maria menjalani kehidupan seksualitas yang murni. Ia tidak pernah jatuh dalam dosa-dosa seksual. Maria juga manusia biasa, yang juga memiliki dorongan-dorongan seksual. Tetapi Selama hidupnya Maria sudah mengalami kepenuhan bersama Allah. Artinya, kemurnian Maria membuat ia mengalami seksualitasnya secara penuh.

Inilah sebabnya ia tidak melakukan hubungan seksual dengan Yusuf suaminya, BUKAN berarti hubungan pernikahan itu tidak suci! Tetapi bahwa Maria sudah hidup melampaui persatuan seksual, yaitu persatuan dengan Allah. Maria adalah satu-satunya wanita yang mengalami kepenuhan rencana awal Allah mengenai seksualitas.

Bila Maria menjalani kehidupan seksual itu artinya ia berjalan ‘mundur’ dalam hidupnya. Oleh sebab itu, ia membawa Yusuf, suaminya, untuk ‘maju’ dan mendapatkan kepenuhan seluruh hasrat manusia. Maria sudah ‘hidup di dunia seperti di Surga’. Dan ia juga mengajak kita untuk ‘hidup di dunia seperti di Surga’, seperti dalam doa yang kita sebutkan sehari-hari, ‘di bumi seperti di dalam Surga’.

Mary, the New Eve

Bila Yesus disebut sebagai Adam yang baru, maka Maria juga disebut sebagai Hawa yang baru. Hawa yang lama ragu dan bimbang akan Tuhan, oleh sebab itu ia menjadi mudah digoda oleh iblis dan jatuh dalam perangkap iblis.

Hawa melihat buah pohon pengetahuan di taman Eden. Ia suka dan tertarik dengan buah itu. Tetapi ia ingat bahwa Allah menyuruh mereka untuk tidak makan buah dari pohon pengetahuan itu. Bila Allah berkata demikain, bukan berarti Allah tidak ingin manusia memiliki pengetahuan akan yang baik dan jahat. Allah tentu menginginkan manusia memiliki pengetahuan akan yang baik dan jahat. Tetapi buah pengetahuan itu akan ‘dihadiahkan’ oleh Allah sendiri kepada manusia. Sebab manusia tidak dapat menciptakan sesuatu yang baik dan buruk bagi diri mereka sendiri. Manusia hanya dapat menerima dari Tuhan, bukannya mengambil terlebih dulu hadiah yang akan diberikan pada manusia.

Hawa yang lama jatuh dalam dosa keraguan akan Tuhan. Maka Hawa yang baru, Maria menjadi alat yang menebus dosa-dosa Hawa yang lama. Maria bukannya menolak untuk menerima hadiah itu, tetapi ia menolak untuk mengambil hadiah itu bagi dirinya sendiri. Hawa yang lama ragu, tetapi Hawa yang baru yakin, percaya dan menanti Tuhan dalam kerinduannya. Ia percaya penuh akan Tuhan dan mempercayakan seluruh hidupnya untuk rencana Tuhan.

Bila Hawa yang lama memberikan buah kepada Adam yang membuat seluruh keturunan Adam jatuh, maka Maria juga membawa buah kepada kita yang menghapus dosa-dosa kita, yaitu buah dari rahimnya, yaitu Yesus, Juru Selamat.

Mungkinkah seperti Maria?

Maria adalah Ibu Yesus. Ia dikandung tanpa dosa. Selama hidupnya ia tidak berdosa. Bahkan lebih, semasa hidupnya di dunia, ia sudah hidup bersatu dengan Allah layaknya di Surga. Ia pun memegang peranan yang penting dalam rencana penyelamatan Allah, yaitu dengan berkata ‘ya’ akan rencana Tuhan dalam hidupnya.

Bagaimana dengan kita? Kita hanyalah manusia biasa. Apakah mungkin bagi kita menjadi seperti Maria? Saya berpendapat : sangat mungkin. Bahkan lebih, kita semua dipanggil menjadi seperti Maria. Selain peranan-peranan yang ia pegang, Maria juga memiliki tugas yaitu menjadi contoh bagi kita.

Tahukah Anda, terdapat 2 cara untuk membuat patung dari tanah liat. Cara pertama adalah memasukkannya dalam cetakkan. Itulah cara Allah membentuk Maria menjadi kudus dan sanggup untuk pekerjaan besar tangan Tuhan. Dan Allah memiliki cara lain untuk membuat kita juga menjadi kudus dan sanggup untuk bekerja untuk-Nya.

Sama seperti cara kedua membuat patung tanah liat, tanah liat itu diputar, diolah, dipanaskan, dan diukir hingga serupa dengan patung yang diinginkan. Kita dapat menjadi serupa dengan Yesus dan Maria, asal kita mau datang kepada Tuhan untuk dibentuk, diolah, diproses oleh Tuhan lewat kejadian-kejadian hidup kita yang membuat kita dewasa didalam iman. Siapkah anda menjadi seperti Maria?

Ketika permasalahan datang dapatkah kita dengan tenang menghadapinya, seperti Maria yang menyimpannya dalam hati? Ketika Tuhan meminta hal-hal yang berarti dalam hidup kita, siapkah kita menyerahkannya kepada Tuhan seperti Maria yang rela anaknya menjadi korban penebusan dosa manusia? Ketika Tuhan meminta hidup kita, apakah kita mau memberikannya kepada Tuhan seperti Maria yang berkata, ‘terjadilah padaku menurut kehendak-Mu’?

Source :

Scott Hahn – Catholic For A Reason II

Christopher West – Heaven’s Song

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s