Intercessory Prayer – Pendoa Syafaat

“Han, gue ada di aquarium. Liat kebelakang aja.” Begitu isi sms ku ke teman ku. Saat itu, sedang ada acara KRK-Kebangunan Rohani Katolik- bukan karaoke ya. KRK itu seperti PD yang besar dan meriah, full band, rame banget, dihadiri penduduk seantero kota dan pake tiket segala gitulah. Saya dan teman-teman turut berpartisipasi menjadi tim doa syafaat. Para pendoa syafaat duduk di suatu ruangan terpisah di bagian belakang auditorium tempat KRK berlangsung. Namun, kami masih dapat melihat KRK yang berlangsung karena dibatasi kaca tembus pandang, seperti di dalam ‘aquarium’.

Pendoa Syafaat? Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan?

Di ‘aquarium’ ngapain aja? Ya, berdoa. Kami yang di aquarium melakukan berbagai jenis doa, mulai dari Rosario, doa pribadi, doa lewat nyanyian, doa bahasa Roh, dan masih banyak lagi. Untung Gereja Katolik kaya akan jenis-jenis doa.

Para tim doa syafaat KRK itu berdoa untuk kelangsungan acara KRK, kami berdoa agar umat mau membuka hatinya, kami berdoa agar umat dengan setia mendengar Firman yang dibawakan, kami berdoa agar tidak mati lampu, kami berdoa agar senar gitar tidak putus, kami berdoa agar umat bebas dari macet saat datang, kami berdoa agar kuasa jahat dipatahkan, kami berdoa agar umat yang berbeban berat pulang dengan hati yang baru. Pendoa syafaat adalah orang yang setia berdoa untuk orang sekitarnya, baik diminta maupun tidak.


Cuma berdoa buat orang lain? Diri sendiri, gimana?

Pulang KRK apa yang saya rasakan? Cape, man! Gila, rahang gue rasanya mau lepas! Lidah gue udah lemes deh pokoknya. Rosario tiga lap, man!. Mungkin ga cuma saya, tapi teman-teman pendoa juga demikian.

Saat masa sebelum KRK, kami ditawari, siapa yang ingin bantu menjadi pendoa syafaat untuk KRK itu. Awalnya saya ragu. Mengapa? Gila, KRK besar tuh. Dipimpin oleh worship leader kondang. Pembawa Firman nya import pula! Kalo jadi pendoa syafaat, ya berarti cuma duduk diam, berdoa untuk KRK itu. Ga bisa ikutan loncat-loncat, jingkrak-jingkrak, ga bisa melantunkan penyembahan yang saya rindukan. Wah. Mau ga ya? Demikian pikir saya dan saya rasa teman-teman lain juga berpikir begitu. Akhirnya, hanya beberapa teman saja yang bersedia ikut menjadi tim pendoa syafaat.

Sebenarnya, saya agak kecewa dengan teman-teman yang menolak menjadi pendoa syafaat, namun tetap ikut KRK – jadi yang di luar aquarium-. Ya, itu pilihan mereka sih. Entah apapun alasannya, mereka lebih memilih untuk turut langsung dalam kemeriahan KRK daripada kebosanan di aquarium. Awalnya, saya pikir pendoa syafaat pulang dengan tidak membawa apa-apa, tidak seperti yang di luar aquarium, yang mungkin merasa on-fire lagi, merasa dipulihkan, sukacita ruarrbiasa, dll. Mengapa? Karena pendoa syafaat fokus berdoa untuk umat yang hadir, pendoa syafaat tidak mencari kepuasan hati sendiri. Yang ada malah cape.

Namun, diakhir KRK, rasanya saya juga dipulihkan oleh Tuhan dengan melihat para umat yang pulang dengan pancaran sinar harapan baru dimata mereka, dengan mata bengkak, dengan obrolan-obrolan: ‘Tuhan memang luar biasa ya!’ dan yang terutama saya rasanya bisa merasakan isi Surga yang bersukacita karena jiwa-jiwa boleh kembali dan bertobat. Dan juga mengingat bahwa pahala yang menuggu saya di Surga, yang mana orang-orang di luar aquarium ga dapet. Hehe.

Mendoakan Vs. Didoakan

Pilih mana, hayo…? Didoakan pasti seneng, bukan? Kalo mendoakan orang lain, nampaknya kita ga dapet apa-apa ya?

Tidak, jika kamu didoakan, mungkin kamu akan merasakan suatu ‘penghiburan rohani’. Namun, berdoa untuk orang lain memberikan sesuatu yang lebih indah, lebih mahal daripada ‘penghiburan rohani’ biasa, yaitu tidak adanya penghiburan rohani baru itu sendiri.

Lho, kok begitu? Ya! Mungkin kita setelah berdoa, setelah ikut PD, ikut KRK, merasa bahwa kita telah diberkati Tuhan, telah dicintai Tuhan. Setelah itu, kita cenderung untuk melupakan Tuhan karena kepuasan jiwanya rasanya telah penuh. Kita akan kembali mengingat Tuhan dan bertekun dalam relasi pribadi bersama Tuhan saat hati kita kosong. Lalu, apakah Tuhan sama dengan pom bensin? Yang hanya kita kunjungi saat hati kita kosong? Tidak mau begitu, bukan? Maka dengan berdoa syafaat mungkin kita tidak akan mengalami kepenuhan secara langsung. Namun, kita dibuatNya untuk terus merasa kosong, sehingga kita selalu kembali dan mengingatNya.

St. Fransiskus Asisi berkata, “Demikian yang harus kau katakan dalam doa dan ketika kamu meninggalkan doamu, kamu harus muncul sebagai pendoa yang miskin, bukan seseorang yang baru saja menerima anugrah baru. Karena kau dapat kehilangan sesuatu yang berharga demi kepuasan kecil dari kesombongan dan dengan mudah menggusarkan Dia, sehingga tidak memberi lagi.”


Siapa aja, yang berdoa syafaat?

1. Tuhan Yesus

Yesus juga pendoa syafaat? Yup! Yohanes 17 dengan jelas berjudul: Doa Yesus untuk murid-muridNya.

2. Paulus

Hampir di setiap surat rasul Paulus, ia selalu menulis bahwa ia dan rekan-rekannya selalu berdoa bagi umat Kristen saat itu. Salah satunya, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.” 1 Tesalonika 1:2

3. Santo-santa

Begitu banyak doa-doa dan novena yang didoakan melalui perantaraan para kudus. Mereka yang begitu mencintai Tuhan juga rindu agar umat Tuhan yang lain juga semakin mencintai Tuhan.


Bertumbuh dalam doa

Seiring bertumbuhnya iman kita, isi doa kita pun berubah. Saya pernah merasa doa saya stuckdi situ-situ saja. Lalu, saya coba mempersembahkan doa bagi orang-orang di sekitar saya. Lama-lama saya merasa bahwa doa menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan.


Mulai berdoa syafaat? Yuk…

Jika kamu merasa doa pribadimu begitu-begitu saja, cobalah untuk berdoa syafaat. Doakanlah dulu orang-orang disekitarmu. Sebutkan namanya, bawa ia kepada Tuhan. Salah satu cara yang saya pakai biasa saya mendokan 50 orang dalam 50 butir doa Salam Maria pada doa Rosario, dijamin, kamu pasti ingin menambah satu putaran Rosario lagi deh. Kalau masih bingung bagaimana harus berdoa, mintalah bimbingan Roh Kudus karena Roh Kudus akan membantu kita dalam setiap doa kita (Roma 8:26-27).

Bawalah hanya kepada Tuhan, setiap pergumulanmu, keraguanmu, ketidakmampuanmu dengan tidak ragu-ragu. Yakin dan percayalah bahwa setiap doa yang dengan yakin didoakan, saaangat besarrr kuasanya (Yakobus 5:16). Dan ingat selalu Firman Tuhan terpendek dalam Alkitab: Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17).

m0n

JCLU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s