Mengasihi Sesama

Jika anda mendengar kata-kata judul diatas, dan ditanyai, ayat Alkitab apa yang anda ingat tentang mengasihi sesama? Mungkin kebanyakkan dari anda akan menjawab: “Kasihilah sesama mu seperti dirimu sendiri.” Namun jika ditanyai lebih lanjut, apakah anda sudah mengamalkan Firman itu? Kebanyakan mungkin menjawab belum.

Apa itu mengasihi?

Paulus berkata: “Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah…” Sumber cinta kasih adalah Tuhan. Mengapa Tuhan menginginkan kita mencintai sesama juga setelah mencintaiNya? Karena Tuhan ingin cintaNya dalam kita menjadi sempurna! Agar cinta Tuhan itu dapat menjadi sempurna, kita harus dilatih. Dan salah satu cara menyempurnakan cinta itu adalah dengan mencintai sesama kita.

Dengan belajar mengasihi sesama, kita ikut melakukan apa yang Yesus lakukan kepada sesamaNya ketika Ia masih didunia. Sebab Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Bagaimana Yesus mengasihi sesamaNya? Yesus mengasihi dengan tinggal bersama-sama sesamaNya, memberi makan, makan bersama, memperhatikan, menyembuhkan, memperingatkan, mengajar sesamaNya tentang kebenaran sampai akhirnya memberikan diriNya untuk sesamaNya diatas kayu salib, tidak hanya untuk sesamaNya, tetapi untuk para algojo dan orang-orang yang tak suka padaNya dan untuk kita juga yang terus menerus mengkhianatiNya lewat dosa kita. Akar cinta kasih Yesus adalah komitmen untuk memperdulikan dan melayani.


Yesus mati demi cinta

Yesus mencintai sampai mati

Yesus mati dalam cintaNya pada kita

Yesus mencintai sambil mati terhadap DiriNya sendiri

Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikannyawanya untuk sahabat-sahabatnya.“

Siapa yang tidak tahu Beata Mother Teresa? Ia memberikan contoh pada dunia bagaimana kasih Yesus itu dalam tindakan nyata. Ia yang seorang putri dari keluarga berada, merelakan dirinya untuk melayani orang-orang kecil dan miskin. Mother Teresa pernah berkata: “Hidup itu tidak pantas dihidupi kecuali kalau dihidupi untuk orang lain.” Life is to love.



Siapa itu sesamaku?

Dengan demikian, haruskah kita melakukan seperti yang Beata Mother Teresa lakukan atau seperti orang-orang kudus lainnya? Meninggalkan comfort zone dan turun kejalan melayani orang-orang miskin? Mungkin kita akan berpikir dua kali. Hal ekstreem itu bukannya tidak perlu atau boleh kita hindari, tetapi saya mengajak teman-teman sekalian untuk merefleksikan mulai dari orang-orang sekitar kita.

Bayangkanlah jika kita harus turun ke jalan menolong orang-orang miskin dan kecil dan kita dikagumi oleh seisi kota akan perbuatan kita, namun kita tidak pernah akur dengan ayah atau ibu atau kakak-adik kita didalam rumah sendiri. Sungguh ironis bukan jadinya? Oleh sebab itu, saya mengajak teman-teman untuk kembali melihat hubungan kita dengan keluarga kita dulu. Apakah aku sudah sungguh-sungguh mencintai ayah-ibu-kakak-adik-om-tante dan semuanya seperti yang Yesus katakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”? Apakah kita sudah memberikan diri kita untuk mengasihi mereka atau kita masih menolak keinginan-keinginan kecil yang mereka sampaikan pada kita?



Mengampuni sesama…

Dalam memberikan kasih bagi sesama kita, kita juga harus mengampuni. Seseorang tidak mungkin mengasihi orang yang ia benci tanpa sebelumnya mengampuni orang tersebut terlebih dahulu bukan? Dendam dan benci terhadap sesama dapat menjadi akar pahit yang merusak hubungan kita dengan Allah. Tidak sedikit orang-orang yang mengalami sakit fisik karena batinnya tak mampu mengampuni orang yang telah melukainya dan rasa dendam dan benci terus berakar dihatinya. Yesus meminta kita mengasihi sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita. Yang Ia lakukan kepada kita adalah menerima segala kekurangan kita dan mengampuni dan melupakan dosa-dosa kita yang mungkin kita lakukan berkali-kali.



Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri?

Yesus berkata: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam memahami Firman ini rasanya butuh waktu lama sekali bagi saya. Dulu saya hanya meng-amin-I Firman tersebut. Saya hanya dapat berkata: “Saya akan berusaha melakukannya.” Tanpa memahami maksud dibalik Firman itu, Firman itu rasanya hanya kata-kata saja dan tidak ngefek dalam hidup saya. Namun, puji Tuhan, rasanya Tuhan memberikan penjelasan yang sangat-sangat jelas tentang mengasihi sesama itu kepada saya melalui pengajaran Theology of the Body yang saya peroleh saat Camping Rohani 2009 di Lembah Karmel.

Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan rahasia yang sungguh-sungguh besar tentang eksitensi atau keberadaan manusia dan apa atau siapa sebenarnya manusia yang Allah ciptakan. Paus Yohanes Paulus mengatakan setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar atau hasrat untuk mencintai dan dicintai. Oleh sebab itu manusia tidak mungkin hidup tanpa cinta. Dan lebih lanjut beliau menegaskan bahwa lawan dari mencintai adalah memanfaatkan. Manusia dalam hubungannya dengan orang lain dapat mengalami yang namanya: mencintai-dicintai-saling mencintai atau memanfaatkan-dimanfaatkan-saling memanfaatkan.

Orang yang memanfaatkan sesamanya berarti memandang sesamanya sebagai ‘objek’. Objek untuk memuaskan keinginan mereka, memuaskan hasrat mereka. Sementara hubungan yang Tuhan kehendaki kita miliki terhadap sesama kita adalah hubungan yang memandang sesama kita sebagai ‘subjek’, dan memperlakukan sesama kita sebagai ‘subjek’ pula, bukan ‘objek’ pemuas keinginan kita.

Yesus juga bersabda: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Oleh sebab itu jika kita ingin dicintai orang lain kita harus mencintai orang lain juga. Jika kita memanfaatkan orang lain untuk keuntungan tertentu berarti kita meminta orang lain pula untuk memanfaatkan kita dan tidak memberikan kita cinta yang tulus.

Saya memahami Firman Tuhan: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” karena orang lain adalah ‘aku’ku yang lain. Orang itu adalah ‘aku’ku yang disana.

Santo Petrus dengan tegas mengatakan pentingnya mengasihi sesama: “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s