Mengenal Kehendak Allah

Dalam menjalani hidup sebagai seorang Kristiani, kita dituntun untuk tidak lagi hidup dari diri kita sendiri, melainkan mulai hidup sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Khususnya, yang telah mengalami pencurahan Roh, hidup tidak lagi melulu pada diri sendiri, melainkan sesuai kata-kata rasul Paulus,

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
(Galatia 2:20).

Ketika kita diajak untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, sering kali, pertanyaan yang muncul adalah: apa sih kehendak Tuhan dalam hidup ku? Bahkan kita sering tidak tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan, bagaimana mungkin kita berjalan dalam kehendak Tuhan tersebut.

Apalagi, dalam hidup ini penuh dengan pilihan. Menurut riset yang pernah dilakukan, dalam sehari, seorang dapat menghadapi ratusan bahkan ribuan pilihan dalam hidupnya, mulai dari pilihan kecil sampai suatu pilihan atau keputusan besar yang akan sangat mempengaruhi hidupnya.

Lalu bagaimanakah kita dapat mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita? Dalam pengalaman hidup keseharian saya, melalui suatu proses yang cukup panjang, saya akhirnya berhasil menguraikan dalam kata-kata, bagaimana cara kita belajar mengenal kehendak Allah dalam hidup ini. Untuk membantu pembaca dalam memahami apa yang saya pahami tentang kehendak Allah ini, saya sembari menceritakan pengalaman saya tersebut.


Study…
Salah satu keputusan besar yang umumnya orang alami saat masa mudanya adalah menentukan study. Pada umumnya, anak kelas 2 smp belumlah memikirkan rencana study mendatang, lanjut ke SMA mana pun, mungkin belum terpikir olehnya. Namun, saya,yang bersekolah di SMP Budi Mulia mangga besar, memiliki pandangan jauh ke depan akan masa depan saya. Saya berencana akan melanjutkan ke SMA Santa Ursula, lalu melanjutkan kuliah ke NTU (Nanyang Technological University) Singapore. Itulah rencana awal saya yang entah datang darimana. Saya memilih masuk ke SMA Santa Ursula yang merupakan salah satu sekolah favorit di Jakarta, dengan tujuan khusus: sebagai batu loncatan untuk NTU itu. Karena menurut saya, salah satu jalan untuk ke NTU adalah dengan bersekolah di SMA yang punya nama. Saya memilih ke NTU karena tentu saja kualitas baiknya dan beasiswa yang ditawarkan.

Akhirnya Tuhan melabuhkan saya di SMA Santa Ursula. Singkat cerita, memang dari tahun ke tahun, cukup banyak anak yang tertarik untuk melanjutkan ke NTU, dan beberapa diterima. Kelas tiga SMA pun tiba, setiap siswi harus mulai menentukan pilihan, begitu pula saya. Saya masih saja tertarik untuk NTU Singapore, karena beasiswa tersebut dan kualitas hidup yang lebih baik di Singapore dan beberapa alasan kecil lain. Jika ditanya, adakah pilihan universitas dalam negeri? Saya menjawab, mungkin binus kali. Karena universitas Bina Nusantara memiliki kualitas yang terbaik dalam jurusan Teknik informatika atau IT, dan biayanya memungkinkan bagi orangtua saya. Namun, biasa saya melanjutkan, tapi kalau ke binus, dari BM (Budi Mulia) juga bisa, tak perlu susah-susah ke SMA Santa Ursula.

Ditengah-tengah jalan dalam memilih, saya mulai merasakan keraguan, karena prestasi saya selama SMA tidaklah cemerlang, mempertahankan nilai 8 saja sangat sulit. Tidak ada lagi peringkat yang saya dapat seperti saat SMP. Namun, entah mengapa saya merasa bahwa saya bisa ke NTU karena saya meminta kepada Tuhan dan Tuhan pasti akan member yang tebaik untuk saya, dan saya pikir saat itu, NTU lah yang terbaik dalam hidup saya menurut pandangan saya pribadi.


Perjuangan terberat dalam hidup…
Nah, untuk bisa diterima di NTU dan mendapat beasiswa bukanlah sesuatu yang mudah, tidak bisa coba-coba, karena test masuknya terkenal sangat sulit. Oleh karena itu, saya mengikuti bimbingan les A-level, yaitu kurikulum Singapore, yang merupakan bahan test masuk dan merupakan bahan kuliah. Pelajaran sekolah saja sudah menumpuk, ditambah lagi harus les A-level yang sangat sangat sulit. Saya les setiap hari minggu, saya tidak bisa lagi menghadiri Misa minggu pagi, tetapi bisa diganti Misa minggu sore. Saya tidak bisa lagi mengikuti Doa Syafaat team PD setiap minggu pagi, oleh karena itu, saya sempat vakum dalam team PD selama setengah tahun. Ikut PD pun hanya datang lalu bergegas pulang untuk mempersiapkan pelajaran sekolah esok. Sampai menjelang test masuk di bulan Februari, les intensif mulai diadakan. Pagi hari sekolah jam 7, berangkat dari rumah jam 6.30. pulang sekolah pukul 13.30 kadang jam 15.30, lalu bergegas nebeng mobil teman pergi ke kelapa gading untuk les A-level pukul 17.00. Les berakhir sekitar pukul 21.00, sampai di rumah pukul 22.00. Belum mempersiapkan untuk sekolah hari esok, belum buat pr, apalagi kalau ada ulangan. Saat disekolah, saya tidak lagi mendengarkan guru mengajar, tetapi kami, yang les A-level itu, mulai mengerjakan soal matematika, fisika A-level, dan saat menjelang test, kami bolos. Sebenarnya kepala sekolah tahu kalau kami bolos, ini sudah menjadi agenda setiap tahun murid-murid yang akan test universitas.

Bohong dan bolos menambah beban saya, sungguh, begitu berat dan bingung dalam merencanakan hari untuk bolos. (kami bolos untuk pergi ke tempat les) Menceritakan ini saja rasanya berat, apalagi mengingat dulu saya pernah mengalami hal seperti itu. Hubungan pribadi dengan Tuhan sempat melonggar.

Ada masa keraguan sebelum mengikuti bimbingan belajar ini, saya bertanya kepada Tuhan, apakah Tuhan sungguh-sungguh ingin saya pergi ke NTU, haruskah saya ikut les A-level itu (dengan mengetahui resiko waktu yang tersita dan hubungan dengan Tuhan yang akan melonggar)? Saya terus memberi deadline kepada Tuhan untuk menjawab dan memberi tanda. Namun, tanda itu tak kunjung muncul. Teman saya terus bertanya, jadi ga ikut les A-level? Saya terdesak. Saya sendiri yang mengajaknya, masi merasa ragu. Saya harus segera menentukan arah langkah saya. Saya sudah mengangkat kaki saya, namun secara batiniah, saya masi bingung, harus diletakkan ke kanan atau ke kiri.

Tekanan dari dari diri sendiri, mengingat keinginan ini sudah merupakan keinginan sejak 2 SMP dan setelah menimbang-nimbang, sepertinya inilah yang terbaik, saya putuskan saja untuk melangkahkan kaki saya ke satu arah yang saya sendiri tidak tahu apakah itu berkenan pada Tuhan atau tidak. Akhirnya saya berkata, “ya, saya ambil jalan ini, saya ikut les A-level, saya benar-benar berjuang ke NTU”, dan saya memaksa Tuhan, “Lord, bless my way.” Saya bahkan seperti memberitahu semua orang bahwa saya akan melanjutkan kuliah ke Singapore. Begitu yakinnya saya.

Kadang saya merasa benar bahwa ini adalah jalan yang Tuhan juga rencanakan dalam hidup saya, saya terkadang merasa begitu percaya diri. Namun, melihat kenyataan bahwa saya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang teman-teman dapat dengan mudah menjawab, pikiran keraguan itu mulai muncul. Saya berusaha percaya akan kuasa Tuhan yang membuat yang mustahil menjadi mungkin, namun saya kembali kepada ratio yang menunjukkan tanda-tanda nyata bahwa kemampuan saya untuk bersaing tidaklah mampu.

Segala upaya, tenaga, dan bahkan uang pun telah dikeluarkan, les A-level ini tidak murah, 8.5 juta dikeluarkan, sampai periode test, saya sempat les sekitar 6 bulan. 8.5 juta merupakan nilai yang besar dan sulit dicari oleh orang tua saya. Mereka sudah melemparkan kepecayaan mereka pada saya untuk menjalani ini tentu dengan mengetahui resiko, uang yang terbuang begitu saja, ongkos bensin ke tempat les yang lumayan jauh dari rumah, keberadaan saya yang semakin jarang di rumah. Pada akhirnya ini menjadi beban bagi saya.

Isi doa-doa saya pun berubah total, NTU, NTU, NTU, rasanya selalu terdapat kata ini. Terkadang, dalam keraguan dan keputus asaan, saya berkata pada Tuhan, “Walaupun bila ini bukan jalanMu, Tuhan, tapi Tuhan, mampukan saya menjalani ini, untuk berjuang sampai titik penghabisan. Aku tahu bahwa dalam hidup ini, semua akan terjadi sesuai rencanaMu dan hanya rencanaMu lah yang terbaik. Walau tidak diterima di NTU, saya tetap percaya bahwa itu yang terbaik dalam hidupku, tapi kalau bisa, NTU ya Tuhan.”

Walau saya akhirnya sudah menjejakan langkah di satu jalan, saya sadar bahwa saya belum dapat jawaban dari Tuhan apakah ini jalannya? Dan saya pada akhirnya berusaha terbuka dan pasrah pada Tuhan jika saya harus pindah jalan, dan tidak lagi memikirkan beban yang muncul dari orang tua, dari teman-teman yang bertanya, “mau kuliah kemana?”, dan teman-teman komunitas PD yang mendukung dan mendoakan saya dan orang-orang yang mengetahui bahwa saya berencana akan ke Singapore. Mama saya sering membuat saya kesal dengan berkata, “Jangan kasih tahu orang-orang, ntar kalau tidak diterima, malu.”, bagi saya yang saat itu yakin, saya kesal dengan mama saya yang berkata demikian, ia tidak berani mengambil keputusan besar dan saya merasa ia tidak yakin dan tidak mendukung saya.


Finally…
Test pun saya jalani, menurut saya, saya bisa mengerjakan test itu. Test dilakukan pada bulan Februari dan awal bulan April pengumumannya. Alhasil, saya mendapat email penolakan dari NTU. Ada beberapa teman yang banding, namun saya tidak mau. Saya sudah cape. Saya tahu ini bukan jalan saya. Pada akhirnya saya dapat mengetahui kehendak Tuhan, yaitu dengan berani melangkahkan kaki, berani mencoba pilihan yang ada. Oh, sungguh pilihan yang sangat sangat beresiko. Saya membuang 8.5 juta, membuang waktu, tenaga, dan saya juga merugi karena jika saya ikut test untuk Binus sejak awal tahun, mungkin saya dapat berhemat lebih sekitar 10 jutaan karena bisa mendapat PMDK dari binus dari harga yang saya bayar untuk masuk ke Binus sekarang.


Luka Batin…
Banyak teman merasa sangat sedih, menyesal ikut berjuang untuk NTU. Saya menyadari akan sangat banyak anak sekolah yang luka batin karena ditolak universitas. Namun saya tidak demikian. Mungkin pada awalnya saja agak merasa sedih. Saya berani berkata bahwa saya tidak demikian karena sejak awal saya sungguh percaya akan Tuhan yang juga turut bekerja dalam pilihan saya ini. Saya dapat masuk sekolah dengan muka ceria, tidak menunjukkan kesedihan dan dengan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan teman yang bertanya, “Mon, lo dapet NTU?”. Mungkin bagi mereka akan menyakiti hati saya, namun saya tidak merasa demikian. Dan beberapa teman yang berhasil ke NTU itu juga tidak berani mendekati saya mungkin karena takut menyakiti hati saya, tapi tidak.

Kesedihan hanya muncul sekitar beberapa hari saja, dan setelah itu untuk mengatakan dan mengungkapkan kata bahwa saya tidak diterima di NTU bukanlah sesuatu yang berat, melainkan saya melihat suatu proses panjang dalam mengenali kehendak Tuhan, proses yang mahal secara financial, dan akhirnya menjadi suatu pengalaman yang dapat saya bagikan dengan saudara-saudari.

Mungkin anda akan merasa sedikit kebingungan membaca pengalaman saya, kadang saya merasa yakin, kadang merasa ragu dan putus asa. Ya, itu lah gambaran perasaan campur aduk yang saya alami, dan bahkan sulit untuk saya tuang dalam kata-kata. Dan ini yang juga biasa kita rasakan dalam membuat suatu keputusan besar, dalam mengetahui kehendak Allah, apakah ini sesuai rencana Tuhan atau tidak? Bagaimana kalau bukan? Lalu apakah tanda bahwa ini memang kehendak Tuhan? Ya, untuk itulah kita harus tetap berpegang pada Tuhan. Saya tidak membiarkan hal ini mengores batin dan melukai saya.


Langkah-langkah mengenali kehendak Tuhan:
Yang saya lakukan dalam mengenali kehendak Tuhan hanyalah 2 langkah, yaitu pertama-tama memiliki dasar iman bahwa Tuhan dan hanya Tuhan lah yang memiliki kehendak terbaik dalam hidup kita, walaupun tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan (bdk, Roma 8:28), kedua, adalah berani melangkah dalam iman. Sebab tidak ada satu pilihan yang kita tahu kebenarannya jika kita tidak mencobanya dahulu.


“dan kugapai indah hidupku, bersamaMu Tuhan, kekuatan hidupku” lyrics Ku Kan Terbang by UX band
Akhirnya, saya sekarang sudah pasti akan melanjutkan kuliah di universitas Bina Nusantara jurusan IT (Teknik Informatika), dan saya tidak menyesal masuk SMA Santa Ursula karena Tuhan bekerja dan membimbing saya secara luar biasa dalam sekolah itu. Dan saya melihat dan menyadari bahwa masih banyak yang harus saya lakukan di Jakarta, di pademangan, di PDKM St. Alfonsus (komunitas saya), di keluarga saya dan kehidupan kuliah saya yang terlihat akan sangat menyenangkan di Bina Nusantara.

Satu lagi, saya bersyukur kepada Tuhan karena sibuk test NTU itu, saya akhirnya baru mendaftar di Binus pada gelombang empat, sehingga untuk POM atau ospek, saya mendapat gelombang dua. Mengapa? Sebab jika saya ikut PMDK dan mendaftar sejak gelombang 1 atau 2, kemungkinan saya mendapat POM atau ospek pada gelombang satu atau sekitar bulan juli ini, yang menurut jadwal, bertabrakan dengan jadwal Retret SHDR yang di adakan PD St. Alfonsus kemarin.

Thanks to the Lord, for His Kindness and His great plan in my life. Totus tuus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s