St. Monica Feast

Masa kecil penuh bimbingan Tuhan

Monica lahir dari sebuah keluarga Kristiani yang baik. Ia lahir di Tagatse, Algeria, Afrika Utara, pada tahun 332. Keluarganya tergolong mapan. Selama masa kecilnya, ia dididik cukup keras oleh seorang pelayan ayahnya. Didikan dan perhatian pelayan tua itu melebihi perhatian orang tuanya. Maka Monica pun dibimbingnya menjadi seorang anak yang takut akan Allah.

Dalam bukunya, Confessions, St. Agustinus menuliskan cerita saat ibunya sempat terjatuh dlam dosa minum-minuman keras. Saat itu, anggur hanyalah minuman untuk para Tuan atau nyonya dalam sebuah keluarga. Sesuai dengan kebiasaan, orang tuanya menyuruh Monica untuk mengabil anggur dari tahang anggur. Suatu hari, Monica yang masih remaja dan penuh keingintahuan, mencoba anggur murni itu. Walaupun hanya sedikit sekali, ia merasa muak.

Namun, keesokkan harinya, ia mencicipi lagi. Begitu pula keesokkan harinya lagi. Dari tegukkan kecil lama-kelamaan bertambah banyak. Lama-kelamaan, sudah menjadi kebiasaannya meneguk dengan lahap semangkuk penuh anggur murni.

Orang tuanya tidak tahu akan hal ini. Tetapi, pelayan ayahnya tahu. Sampai suatu hari, ia berhenti meminum anggur karena ditegur pelayan tersebut. “Kecil-kecil tukang minum anggur murni!” cerca sang pelayan. Dari kata-kata yang menusuknya itu, ia mulai menyadari kebiasaannya yang buruk dan mulai meninggalkannya. Agustinus menulis bahwa hanya karena kasih Allah saja, ibunya boleh bertobat.

Keluarganya, salibnya

Monica dibesarkan dalam kedisiplinan dan kesederhanaan. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ketika sudah cukup umur, orang tuanya menjodohkannya dengan seorang pria, yaitu Patricius. Sebenarnya, Patricius baik hati, tetapi suka marah dan geram. Patricius bekerja sebagai pejabat pemerintahan.

Patricius adalah kafir. Oleh sebab itu, Monica berusaha membawanya suaminya itu untuk mengenal Tuhan. Segala upaya dilancarkannya. Patricius yang sering marah-marah dihadapinya dengan bijak.

Monica tidak pernah melawan suaminya, tetapi ia hanya diam saja. Lalu ketika suaminya sudah tenang, ia kembali mendekatinya.

Monica menjadi panutan bagi ibu-ibu saat itu. Walau Patricius sering berbuat kejam terhadapnya, Ia tetap menghormatinya. Ibu-ibu lain memiliki suami yang lebih baik dari Patricius, namun, keluarga mereka tidak setentram keluarga Monica. Maka, Monica dengan senang hati membantu mereka menyelesaikan berbagai permasalahan rumah tangga mereka.

Hanya dengan kekuatan dari Tuhan, Monica dapat berkata kepada istri-istri, “Mulai saat mereka mendengar dibacakan apa yang dinamakan kontrak perkawinan itu, seharusnya mereka pandang kontrak itu sebagai alat yang menjadikan mereka hamba; maka seharusnyalah mereka sadar akan keadaannya dan tidak bersikap sok terhadap tuannya.”

Ibu mertuanya pun, mula-mula sangat membencinya. Namun, oleh sikapnya yang penuh hormat dan kesabarannya, ia berhasil merebut hati Ibu mertuanya. Pada akhir hidup suaminya, Patricius menjadi seorang Katolik, dan ia melupakan semua yang terjadi sebelum Patricius mengenal Tuhan.

20 tahun air mata untuk Agustinus

Santa Monica dianugrahi 3 orang anak, anak pertama Aurellius Agustinus, anak kedua Navigius, anak yang baik dan patut menjadi contoh, dan anak perempuannya dan anak terakhir, Perpetua.

Anak-anaknya dibaptis Katolik pada masa kecil, kecuali Agustinus, karena suatu penyakit yang dialami Agustinus. Oleh sebab itu, Santa Monica amat perhatian kepada anaknya yang malas itu, jiwanya bergumul kepada Tuhan mengenai jiwa anaknya yang satu itu. Monica terus berusaha membawa suami dan anaknya kepada jalan yang benar. Dengan doa-doanya serta kelemahlembutan yang ditunjukkannya, ia tak pernah patah semangat akan hal ini.

Agustinus adalah anak yang pandai. Ia melanjutkan sekolahnya di Madaura lalu ke Karthago. Kekhawatiran muncul dalam diri Monica. Ia khawatir bila Agustinus akan semakin jatuh kedalam dosa bila ia jauh dari Monica.

Saat Agustinus ingin pergi dari Karthago menuju Roma, Monica semakin tidak setuju. Monica terus menahannya untuk tidak pergi. ia terus berdoa kepada Tuhan agar anaknya itu tidak jadi berlayar. namun pada malam hari, Agustinus kabur meninggalkan ibunya sendirian dengan air mata yang bercucuran.

Tuhan belum kunjung menjawab doa-doa Monica. Namun, Monica terus dan terus datang kepada Tuhan. Tak pernah seharipun ia melewatkan hari tanpa mengantar persembahannya ke Mezbah Tuhan. Dua kali sehari, ia mengunjungi gereja. Pagi dan sore untuk mendengar pemberitaan Firman Tuhan.

Agustinus menulis, “Wanita itu dengan air matanya meminta kepada-Mu bukan emas atau perak, bukan salah suatu harta yang fana, melainkan keselamatan jiwa anaknya…”

Pada akhirnya, Monica menyusul Agustinus sampai ke Roma dan mendampinginya di Roma. Tak lama kemudian, pertobatan Agustinus dimulai. Ia mempelajari berbagi ilmu namun semuanya tidak ada yang memuaskannya, pada akhirnya ia menemukan kebenaran pada iman Kristiani.

Proses pertobatan Agustinus memakan waktu cukup lama. Dari saat itu, ia masih berhubungan dengan teman-teman wanitanya. Namun, pada akhirnya, ia muak akan segalanya. Dan sungguh-sungguh mengikuti Sabda-Nya.

Kembali kepada Bapa

Ketika ajal Monica sudah mendekat, Agustinus berada disampingnya selalu. Kedua orang kudus ini melupakan apa yang telah terjadi dibelakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di depan. Suatu hari di Ostia, mereka bercakap-cakap mesra, Ibu dengan anaknya. Mereka menyadari kehadiran Tuhan ditengah-tengah mereka. Dan jiwa mereka sungguh diliputi bahagia yang tak terlukiskan. Saat Agustinus sungguh-sunguh bertobat, ia berkata bahwa Tuhan boleh memanggilnya sekarang, sebab kebahagiaan yang ia harapkan sudah tercapai, yaitu keselamtan jiwa Agustinus.

Lalu Monica jatuh sakit. Sampai hari kesembilan ia sakit, Monica meninggal. Ia meninggal pada usia 56 tahun dan Agustinus yang berusia 33 tahun. Agustinus menahan tangisnya, namun ia tidak dapat lagi menahan tangisnya saat pemakanan Ibunya. Agustinus yang keras akhirnya meneteska air matanya juga. Adeodatus, anak Agustinus dari kekasihnya pun menangisi kepergian Monica.

Pesan akhir Monica hanya supaya ia diingat di altar Tuhan, sebab tak seharipun dalam hidupnya ia melewatkan Kurban Ekaristi.

Orang Kudus Gereja Katolik

Santa Monica dikuburkan di Ostia. Lalu pada abad ke-6, tubuhnya dipindahkan ke ruang bawah tanah yang tersembunyi di gereja St. Aureus. Dan pada abad ke-13, pemujaan terhadap Santa Monica mulai tersebar, dan ditetapkan Pesta Santa Monica pada tanggal 27 Agustus. Pada tahun 1430, oleh Paus Martin V, diperintahkan supaya tubuh Santa Monica dipindahkan ke Roma. Banyak mujizat terjadi saat pemindahan itu, maka pemujaan terhadap Santa Monica diresmikan. Tak lama kemudian, dibangunlah sebuah Kapel untuk menghormati Santo Agustinus, maka tubuh Santa Monica dipindahkan ke Kapel tersebut.

————————————————————————————–

Dirangkum dari ‘Confessiones’ karangan St. Agustinus

oleh : Francisca Monica

Artikel ini dipersembahkan khusus bagi Santa Monica, Santa pelindungku yang juga tak pernah berhenti berdoa untukku.

Semoga good-ending mu juga menjadi good-ending ku.

Santa Monica de Hippo untuk Patricius dan Agustinus.

Aku, (saint-to-be) Monica de Pademangan untuk papa dan mamaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s