Cross

‘Theology is theology of the Cross, nothing else.’ Begitulah teologi para pengikut Luther. Maksud Luther mengungkapkan teologi salib ini adalah untuk menentang teologi yang lain, Theology of the Glory, teologi kemuliaan.

Kali ini, saya cukup setuju dengan Luther tentang teologinya ini. Dan begitu pula dengan banyak santo-santa yang secara tak langsung mempraktekkan teologi ini secara tidak langsung, yaitu dengan melakukan matiraga habis-habisan, pantang puasa, dll. Ya, hidup seorang pengikut Kristus, wajib, harus, kudu, sama dengan hidup Kristus, yaitu turun ke dunia yang kacau dari Surga yang bahagia, taat sebagai manusia, dan mati di Salib. Penderitaan. Salib.

Ya, kemuliaan Yesus bukan saat ia bersama murid-muridNya, tetapi saat di Kalvari.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Luke 9:23

Senin kemarin, saya menerima Sakramen Krisma. Sudah sekitar 1 bulan, saya terus menanyakan Tuhan, “Tuhan, apa sih sebenarnya yang dimaksud dewasa rohani? Kita menerima Sakramen Krisma berartimenjadi warga Gereja yang dewasa. Apa artinya? Saya benar-benar tidak mengerti, tidak punya gambaran. God, show me the answer, pliz.”

Ya, cukup lama saya bertanya-tanya. Saya sampai sedikit ketakutan, jangan sampai setelah menerima Sakramen Krisma, saya masih belum tahu apa itu artinya dewasa rohani, tak ada waktu untuk mengundurkan diri didetik-detik terakhir. Dan akhirnya, pagi hari pada hari senin itu, Tuhan menjelaskan jawabannya. Dan jawabannya adalah ayat itu. Penjelasan ayat itu saya rasa adalah Teologi Salibnya Luther.

Begitu pula yang dilakukan oleh St. Fransiskus Asisi, santo pelindungku yang baru kupilih untuk Krisma. Meninggalkan semua ‘glory’ yang ia punya, dan menempuh hidup yang bener-bener cari masalah, ‘Cross’.

Menjadi Katolik yang dewasa, berarti berani memikul salib sehari-hari. Itu saja kog, simple dan susah bukan?

It will be my Cross

Hanya dalam waktu seminggu setelah Sakramen Krisma itu, saya mendapat kabar buruk. Saya mendapatkan salib yang bagi saya cukup besar dan memusingkan untuk kelas 3 nanti. Jadi, dikelas 3 nanti, setiap murid, baik jurusan ipa, ips, bahasa, wajib membuat sebuah karya tulis. Well, saya agak excited awalnya. Topik karya tulis itu tergantung dari guru mata pelajaran apa yang kamu dapat. Saya sangat-sangat berharap mendapatkan guru agama atau guru TI. Kalo agama, sumbernya tinggal buku Scott Hahn, sudah cukup berat, sumber wawancara tinggal jalan ke pastoran. Kalau TI, yah, saya sukalah, pasti dengan semangat membuatnya.

Dan ternyata, karya tulis yang saya pikir saya akan semangat mengerjakannya, menjadi salib bagi saya. Salib yang juga adalah kelemahan. Saya mendapat guru matematika sebagai pembimbing karya tulis. Nightmare. Kenapa harus mat? Itu yang saya tanyakan ke Tuhan, karena kita tidak bisa memilih guru pembimbing, maka saya yakin, Tuhan pasti pasti pasti memberi yang terbaik. Dan yang terbaik untuk saya dari Tuhan, adalah matematika. Ya, saya sangat suka matematika, sewaktu sd atau smp. Tetapi, matematika yang dulu menjadi nilai andalan, sekarang menjadi nilai yang sangat sulit diperjuangkan. Matematika adalah pelajaran program ipa saya yang paling jelek nilainya. Selama 2 tahun di sma.

Ooooohhhhhhh………………….

Jujur saja. Kalau disuruh pilih, pasti tidak akan ada anak yang memilih matematika untuk karya tulisnya dan tidak ada anak yang menyerukan “Yes, saya dapat matematika!”. Tetapi, sedikit di dalam hati saya, entah mengapa ada sedikit rasa bahagia. Bahagia karena saya tahu, Tuhan bekerja dalam hidup saya dengan kelemahan saya. Matematika, nilai yang pas-pasan, paling jelek, paling rendah, paling susah, remedial 5 kali dari 8 ulangan, menjadi suatu kelemahan yang mana atasnya Tuhan bekerja.

Saya sangat berharap, setelah saya akan menghabiskan liburan dan kelas 3 saya dengan kalkulus dan kawan-kawan, saya akan kembali mencintai matematika dan kembali mendapat nilai yang baik dalam pelajaran matematika. Yeah, Jesus cares to my math score. And He wants to change my math score. Bukan hanya saya yang ingin nilai matematika saya menjadi baik, tetapi Tuhan juga ingin.

Dengan mengetahui teologi Salib, saya semakin yakin. Dengan karya tulis math itu, saya akan semakin sering menyentuh hal-hal tentang matematika yang bagi saya adalah salib. Dengan demikian, semakin sering saya memikul salib matematika saya dan menjalani Theology of the Cross. Amen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s